Pedoman Gizi Seimbang



Sumberlawang – Ketika berbicara tentang pemenuhan kebutuhan gizi bagi tubuh, maka secara lantang kita akan menyampaikan prinsip 4 Sehat 5 Sempurna, betul tidak? Makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan diakhiri dengan minum susu sebagai pelengkap merupakan komposisi menu yang ada dalam prinsip tersebut.  Tapi sebenarnya, apakah itu merupakan aturan baku dalam pemenuhan gizi dalam tubuh kita?

Prinsip pemenuhan kebutuhan gizi  4 Sehat 5 Sempurna ternyata sudah ada di Indonesia sejak tahun 1940an. Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poorwo Soedarmo pada masa itu memperoleh inspirasi dari Basic Four Amerika Serikat tentang pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Selanjutnya beliau mengenalkan prinsip tersebut yang didalamnya meliputi konsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan, serta disempurnakan dengan minum susu sebagai bahan pemenuhan kebutuhan gizi tubuh.  

Namun ternyata prinsip pemenuhan gizi 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu dan permasalahan gizi yang terjadi di masyarakat. Konferensi Pangan Sedunia di Roma pada tahun 1992 menghasilkan kesepakatan prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet. Prinsip tersebut diyakini dapat mengatasi berbagai permasalahan gizi yang terjadi di masyarakat, baik kelebihan maupun kekurangan gizi. Di Indonesia prinsip tersebut dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang yang mulai diimplementasikan pada tahun 1955.

Prinsip dalam Pedoman Gizi Seimbang ialah menyeimbangkan zat gizi yang keluar dengan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dengan memantau berat badan secara teratur. Perbedaan mendasar antara Pedoman Gizi Seimbang dengan prinsip 4 Sehat 5 Sempurna yaitu dalam hal konsumsi makanan harus mengandung gizi dengan zat dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Terdapat empat pilar utama yang harus diperhatikan dalam konsumsi makanan meliputi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal.

Terjadinya ketimpangan jumlah gizi yang keluar-masuk dalam tubuh serta tidak diimbangi dengan aktivitas fisik menyebabkan meningkatnya jumlah penderita obesitas di masyarakat. Menurut data Riskesdas  tahun 2007 hingga 2013 terdapat peningkatan prevalensi obesitas pada penduduk berusia > 18 tahun mencapai 15,4%. Berdasarkan data tersebut maka Kementerian Kesehatan mempelopori Program Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS) yang bekerja sama dengan berbagai lintas sektor dan organisasi/lembaga yang ada di masyarakat.

Penyakit obesitas atau kelebihan berat badan dan kegemukan disebabkan oleh adanya kelebihan asupan makanan dan minuman berenergi, berlemak, gula dan garam namun kekurangan asupan pangan bergizi seperti sayuran, buah-buahan, serealia utuh dan kurang aktivitas fisik. Oleh karena pentingnya konsumsi gizi dan diimbangi dengan aktivitas fisik serta pemantauan berat badan secara rutin maka Pedoman Gizi Seimbang perlu untuk disosialisasikan dan diimplemetasikan dengan baik di masyarakat melalui kegiatan konseling, pendidikan, pelatihan, dan lainnya.   

(Yenni/Tim UKS)

Referensi

Panduan Pelaksanaan Anak Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS) Kementerian Kesehatan RI 2017

PMK No. 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang

http://mediapublica.co/2017/05/24/hidup-sehat-dengan-pedoman-gizi-seimbang/
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

facebook

SARAN / MASUKAN

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

KELAS 7C PENGHIMPUN INFAQ TERBANYAK INFAQ PEKAN 1 BULAN AGUSTUS 2022

  "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai...